Desa pekraman adat sebagai wadah umat hindu kampung banjar dewa

Rapat pembahasan peraturan desa pekraman adat kampung banjar dewa di wantilan pura dalem.

Banjar Dewa(Tuba 09/04/2018): Desa pekaraman adat merupakan suatu penguyuban umat hindu ditingkat desa. Sebagai wadah bersama untuk mengamalkan ajaran hindu yang dianutnya. Desa pekraman tidak memiliki hubungan struktural dengan pemerintahan kampung. Desa pekraman berlandaskan nilai-nilai religius. Nilai-nilai religius tersebut bersumber pada ajaran agama hindu. Desa pekraman mencakup unsur manusia, wilayah suci dan wilayah desa. Desa pekraman juga sering disebut sebagai desa adat. Desa pekraman itu pada hakekatnya adalah pengejewantahan ajaran agama hindu dalam menata umatnya dalam suatu wilayah.

Di Kampung Banjar Dewa sabagian besar warganya adalah warga yang memeluk ajaran agama hindu. Desa adat pekraman yang ada di kampung banjar dewa sudah ada semenjak warga bali ada. Pada prinsipnya, setiap warga bali yang menganut ajaran hindu pasti ada desa adat pekramannya. Dalam kepengurusan desa adat pekraman terdiri dari masyarakat yang disebut krame, tokoh hindu yang disebut pinandita dan pengurus yang disebut penjuru. Desa pekraman adat mempunyai fungsi untuk mengatur dan mengkoordinir dalam mengamalkan ajaran hindu di kampung banjar dewa.

Suasana rapat 6 bulanan desa pekraman adat banjar dewa di pura dalem

Kegiatan yang sering dilkakukan oleh desa pekraman adat kampung banjar dewa yaitu upacara adat di pura dan kegiatan suka duka. Upacara dipura, dilaksanakan setiap 6 bulan sekali di pura desa/puseh dan pura dalem desa banjar dewa. Untuk kegiatan suka dan duka desa pekraman beperan aktif dalam hal kematian dan pernikahan warganya. Sebagai salah satu organisasi hindu yang ada di kammpung banjar dewa, desa adat pekraman mempunyai peran dan fungsi yang cukup besar. Selain dalam hasl upacara dan suka duka, desa pekraman banjar dewa memiliki tugas untuk meningkatkan pebangunan spiritual umatnya.

Kegiatan rutin yang dilakukan oleh desa pekraman adat kampung banjar dewa yaitu rapat atau peparuman rutin setiap 6 sekali. Rapat atau peparuman dilakukan sehari setelah selesainya upacara pujawali atau piodalan selesai. Dalam rapat ini, akan dibahas semua permasalahan yang timbul didalam lingkungan desa pekraman. Pembahasan dimulai dari keuangan, sosial masyarakat dan peraturan atau dalam bahasa bali disebut awig-awaig. Awig-awig berisi tentang larangan dan sanksi serta kewajiban yang harus dipatuhi oleh setiap kramenya.

Krame adat yang hadir dalam rapat tampak santai saat istirahat untuk makan siang.

Pada tanggal 08/04/2018 kemarin, desa adat pekraman banjar dewa mengadakan rapat rutin. Dalam rapat ini dibahas tentang peningkatan dan pengamalan ajaran agama. Selain itu, rapat ini juga membahas peraturan tentang peran dan tugas pengurus,Pemangku serta juru sapuh. Dimana selama ini tugas dan fungsinya belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. Diharapkan kedepan, semua krame desa adat pekraman dapat meningkatkan pembangunan spiritual. Semua yang sudah mempunyai tugas dalam desa pekraman dapat meningkatkan lagi dalam menjalankan tugas.

(ips/badew)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan