Ogoh-ogoh salah satu budaya yang dilestarikan

ogoh-ogoh sebagai budaya dan kreativitas(Dok:KBD/Fhoto Badew)</p?

Banjar dewa(tuba 12/03/2018): Ogoh-ogoh sendiri memiliki peranan sebagai simbol prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta (kekuatan alam). Ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta Kala yakni perwujudan makhluk yang besar dan menyeramkan. Pada awal mula diciptakannya, ogoh-ogoh dibuat dari rangka kayu dan bambu sederhana. Rangka tersebut dibentuk lalu dibungkus kertas. Pada perkembangan jaman yang maju pesat, ogoh-ogoh pun terimbas dampaknya. Ogoh-ogoh makin berinovasi, dibuat dengan rangka dari besi yang dirangkaikan dengan bambu yang dianyam. Pembungkus badan ogoh-ogoh pun diganti dengan gabus atau stereofoam dengan teknik pengecatan.

Bentuk ogoh-ogoh yang disimbolkan sebagai raksasa( sifat negatif)(Dok:KBD/Fhoto Badew)

Tema ogoh-ogoh pun semakin bervariasi, dari tema pewayangan, modern, porno sampai politik yang tidak mencerminkan makna agama. Tema ogoh-ogoh yang diharapkan adalah sesuai dengan nilai agama Hindu yaitu tidak terlepas dari Tuhan, Manusia dan Buta Kala sebagai penyeimbang hubugan ketiganya.Ogoh-ogoh simbol Kala ini haruslah sesuai dengan sastra agama yang diatur dalam pakem. Tapi dari sudut pandang lain mengatakan ogoh-ogoh itu merupakan kreativitas anak muda yang mengeksploitasi bentuk gejala alam dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat saat ini jadi tidak perlu adanya pembatasan ataupun pengekangan dalam berekspresi.

Ogoh-ogoh merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia. Tradisi ini mengingatkan masyarakat Bali khususnya. Selain itu, ogoh-ogoh diarak keliling desa bertujuan agar kekuatan negatif yang ada di sekitar desa agar ikut bersama ogoh-ogoh. Ritual meminum arak bagi orang yang mengarak ogoh-ogoh di anggap sebagai perwakilan dari sifat buruk yang ada di dalam diri manusia. Beban dari berat yang mereka gendong adalah sebuah sifat negatif, seperti cerminan sifat-sifat raksasa.

Pementasan ogoh-ogoh sebagai bentuk apresiasi kreativitas pemuda(Dok:KBD/fhoto Badew)

Akhir pengarakan ogoh-ogoh, masyarakat akan membakar figur raksasa ini, boleh jadi dikatakan membakar (membiarkan terbakar habis) sifat-sifat yang seperti raksasa. Ketika semua beban akan sifat-sifat negatif yang selama ini mengambil (memboroskan) begitu banyak energi kehidupan seseorang, maka seseorang akan siap memulai sebuah saat yang baru. Ketika segalanya menjadi hening, masyarakat diajak untuk siap memasuki dan memaknai Nyepi dengan sebuah daya hidup yang sepenuhnya baru dan berharap menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya bagi dirinya dan segenap semesta.

Warga bali di kampung banjar dewa, tetap melestarikan budaya ogo-ogoh meskipun berada di daerah lain. Sebagai bentuk pelestarian itu, setiap menjelang tahun baru saka warga bali membuat ogoh-ogoh. Budaya ini harus tetap dijaga, agar generasi muda tahu akan makna dan arti dari ogoh-ogoh. Dalam perkembangannya, pemuda bali kampung banjar dewa sudah mulai melestariakan budaya ogoh-ogoh. Sekarang ini, setiap tahun sudah mulai digalakan pembuatan ogoh-ogoh disetiap adat pekraman diseluruh kabupaten tulang bawang.

ogoh-ogoh menciptkan persatuan dan kebersamaan(Dok:KBD/fhoto Badew)

Diharapkan ogoh-ogoh menjadikan budaya dan seni, yang dicintai dan dilestarikan sebagai ciri khas. Disamping itu, menjadi suatu perbedaan menjadi satu.

(**PB/Tuba)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan