Usaha pengeringan onggok di kampung banjar dewa

Onggok Basah yang siap untuk dijemur.(Dok: KBD/Fhoto Putu.Badew)

Banjar Dewa-Bnajar Agung(Tuba,05/02/2018) : Onggok adalah ampas atau sisa gilingan tepung tapioka yang berasal dari singkong. Dalam Bahasa Jawa, onggok sering disebut sebagai gaber. Ada 2 jenis onggok yang sering beredar yaitu onggok basah dan onggok kering. Pada awalnya, onggok merupakan barang sampah dari hasil sisa penggilingan singkong. Onggok yang masih basah, baunya sangat menyengat hidung dan tidak mengenakan. Seiring perkembangan kebutuhan akan pakan ternak dan bahan baku lainnya, maka onggok menjadi sumber penghasilan tambahan bagi para pelaku bisnis dibidang ini. Fungsi onggok basah adalah sebagai bahan tambahan untuk pakan ternak seperti sapi,babi ataupun ternak lainnya. Dalam kesulitan para peternak untuk mencari pakan alami disaat musim kemarau, maka onggok menjadi bahan pakan alternatif. Alasan utamanya, karena onngok harganya relatif lebih murah.

Di Banjar Dewa, usaha pengeringan onggok terdapat di 3 RK yaitu RK 02,RK 03 dan RK 04. Luas lahan yang yang digunakan untuk usaha ini, berbededa setiap tempat usahanya. Di RK 03, luas areal yang digunakan sekitar 4 Ha. Para pekerja usaha ini, sebagian besar merupakan warga pendatang dari bebabagai daerah yang ada di provinsi lampung. Sistem pengupahannya, dihitung permobil onggok basah yang dikeringkan oleh pekerja. Bahan baku onggok yang didapat oleh para penggusaha ini adalah dari 2 pabrik singkong yaitu PT.TWBP dan PT.SAM. Para pengusaha akan membeli onggok ke perusahaan, sebelumnya harus memiliki Delivery Order ( DO ) onggok yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Onggok basah yang sudah disebar oleh pekerja dilahan penjemuran.(Dok: KBD/Fhoto Putu Badew)

Ada 2 sistem dalam usaha pengeringan onggok yaitu pengeringan dengan sinar matahari dan pengeringan dengan pemanas (Oven). Sistem pengeringan dengan sinar matahari, merupakan sistem yang paling murah dan paling banyak lakukan oleh para pengusaha bidang ini. Onggok basah akan dijemur dilahan pengeringan di bawah sinar matahari. Onggok yang sudah kering, akan memiliki nilai jual yang tinggi. Sistem Pengeringan dengan penjemuran sinar matahari, sangat tergantung dengan cuaca. Jika Cuaca panas pengeringan akan lebih cepat, sedangkan jika Cuaca hujan pengeringan akan membutuhkan waktu lebih lama. Sedangkan pengeringan dengan pemanas (Oven), sangat jarang digunakan oleh para pengusaha. Alasan utamanya selain biaya pembuatan mahal, biaya perawatannya pun mahal.

Seperti yang di ungkapkan oleh pengusaha pengeringan onggok Santoso, Usaha Pengeringan onggok yang kami lakukan adalah dengan metode pengeringan dengan penjemuran dibawah sinar matahari. Onggok basah Satu Rit mobil, kalau cuaca mendukung memerlukan waktu pengeringan paling lama 3 hari. Jika cuaca musim penghujan pengeringan akan lebih lama, tergantung berapa hari hujan berhenti. kendala utama kami sebagai pengusaha adalah cuaca dan bahan baku utamanya. Pada saat musim penghujan kami mengalami kerugian, karena onggok yang baru datang akan hanyut terbawa air hujan. Masalah bahan baku, tergantung dengan musim panen singkong. Jika musim panen singkong, kami akan dengan mudah mendapatkan onggok. Sedangkan dimusim kemarau atau tidak banyak yang panen singkong, kami sangat kesulitan mendapatkan bahan baku onggok,Ungkap Santoso.

Onggok yang sudah Kering dan siap untuk dijual.(Dok: KBD/Fhoto Putu Badew)

Onggok basah yang sudah dikeringan dalam 1 rit mobil, biasanya akan menghasilkan 40 karung onggok kering. Hitungan perkarung onggok kering, dihitung dengan rata-rata yaitu 30 kg perkarung. Harga nilai jual onggok kering, mencapai Rp. 1.400 perkilo. Pada saat musim panas, para pengusaha menjual onggok kering 2 kali dalam seminggu. Itu dapat dilakukan oleh pengusaha, dengan asumsi luas lahan 2 Ha dan onggok dapat kering dalam 3 hari. Onggok kering merupakan bahan pokok untuk pakan ternak, maka permintaan biasanya datang dari para pengusaha peternak sapi. Permintaan onggok kering, akan meningkat pada saat musim kemarau. Para pengusaha onggok Banjar Dewa, mendapat permintaan datang dari pengusaha ternak yang ada di daerah bakery.

Salah satu pekerja pengeringan onggok Ponidi menjelaskan, saat musim kemarau kami biasanya bisa menjemur onggok 3 rit mobil dalam sehari. Setiap 1 rit mobil, kami mendapat upah sebesar Rp. 285.000. Jika onggok yang kami jemur kering dalam 3 hari, maka kami akan mendapat bayaran sebesar Rp.855.000. Dalam satu rit mobil, biasanya mendapat onggok kering sebanyak 40 karung bisa juga lebih. Selain itu, kami juga mendapat penghasilan tambahan yaitu dengan memasukan kekarung hingga menaikannya kemobil untuk dikirim. Kegiatan ini, kami lakukan secara berkelompok yang berjumlah lebih dari 10 orang. Dalam hal bayaran, kami akan dibayar dengan hitungan perkarung. Itu semua dapat terlaksana, apabila ketersedian onggok basah dari Pabrik banyak. Apabila musim penghujan tiba, meskipun bahan baku banyak penghasilan kami akan berkurang. Untuk menyiasati itu, kami biasanya mencari pkerjaan sampingan seperti buruh harin deres karet, jelas Ponidi.

Bapak Ponidi sedang menyebar onggok basah dilahan penjemuran milik Santoso.(Dok:KBD/Fhoto Putu Badew)

Kelangsungan hidup usaha peternakan di Indonesia sangat bergantung pada bahan impor yang harganya cukup mahal. Oleh sebab itu, pemakaian bahan pakan lokal alternatif yang perlu diusahakan secara maksimal, dengan cara bahan baku pakan tersebut ditingkatkan nilai nutrisi dan mutunya dan terjamin ketersediaannya sepanjang waktu. Maka onggok kering Sebagai alternatifnya, selain murah ketersediannya terjamin. Untuk bisa digunakan sebagai bahan pakan ternak, maka mutu dan kualitas onggok perlu ditingkatkan dengan proses teknologi fermentasi. Proses ini biasanya dilakukan oleh para pengusaha peternakan, agar hasil pakan dengan bahan baku onggo lebih memiliki fungsi yang baik untuk ternak.Selain sebagai bahan pakan ternak, pemanfaat onggok kering digunakan sebagai bahan baku untuk obat nyamuk bakar.

Di Tulang Bawang, Kecamatan Banjar Agung merupakan penghasil usaha onggok kering paling banyak. Dengan alasan ini, diharapkan kepada para pengusaha untuk meningkatkan mutu dari usaha tersebut. Disamping itu, pengusaha juga diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perkembangan ekonomi Kampung Khususnya dan Tulang Bawang Pada Umumnya.

(Putu Badew/Tuba)

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan