UPACARA PITRA YADNYA KELUARGA WAYAN ETAR DI KAMPUNG BANJAR DEWA

Wadah / Jempana dalam Upacara Pitra Yadnya Keluarga Wayan Etar ( Dok; Putu . S)

Banjar Dewa,Kec.Banjar Agung-Tulang Bawang,Kamis 30 November 2017 : Warga Bali merupakan Warga terbanyak kedua setelah Warga suku Jawa, Warga Bali Kampung Banjar Dewa mayoritas menganut Agama Hindu. Dalam Hindu memiliki tradisi – tradisi yang unik yang menarik untuk diketahui, salah satunya yaitu Ngaben yang merupakan rangkaian dari upacara Pitra Yadnya. Apa sih Ngaben itu dan apa itu Pitra Yadnya?, Ngaben sering diartikan sebagai prosesi pembakaran mayat orang yang telah meninggal Dunia untuk mengembalikan unsur panca mahabhuta. Pitra Yadnya berasal dari 2 kata yaitu Pitra yang artinya leluhur ( orang Tua) dan Yadnya artinya korban suci yang tulus ihklas, jadi Pitra Yadnya diartikan sebagai korban suci yang tulus ihklas kepada leluhur ( orang Tua).

Proses menaikan Jenazah ke Jempana yang nantinya di gotong secara bersama-sama ke tempat pembakaran Jenazah / Kuburan ( Dok; Putu. S )

 

Pada tanggal 28 November 2017 di Kampung Bnajar Dewa telah dilaksanakan Upacara Pitra Yadnya oleh Keluarga Besar Wayan Etar yang meninggal Dunia pada tanggal 22 November 2017, para warga Bali yang berkewajiban sebagai Krame Banjar dan Krame Adat , yang dalam kaitannya suka duka mempersiapkan segala sesuatu perlengkapan dalam Upacara Pitra Yadnya di Kediamannya Wayan Etar (Alm).

Proses pembuatan banten untuk pelaksanaan ngaben, tampak krame banjar yang perempuan sibuk membuat banten(dok; Putu. S)

Pelaksanaan upacara Ngaben merupakan upacara yang sangat besar, tentunya memerlukan biaya yang tidk sedikit . Apakah harus besar?, bagaimana dengan yang tidak mampu?, dalam pelaksanaan Ngaben tidak harus mengeluarkan biaya yang besar, karena selain perorangan ngaben juga bisa dilaksanakan secara bersama-sama atau masal yang biayanya dapat di minimalisasikan.

Pelaksanaan Ngaben yang dilaksanakan oleh Keluarga Wayan Etar dilaksanakan perorangan dengan mengambil tingkatan Madya. Adappun tahapan- tahapan yang dijabarkan oleh kelian adat Kampung Banjar Dewa yaitu :

1. Ngulapin : merupakan upacara yang dimaknai sebagai upacara untuk memanggil / memberitahukan kepada sang atman yang telah meninggal.

2. Nyiramin : merupakan prosesi yang dimaknai sebagai pelaksanaan memandikan Jenazah yang dilaksanakan di depan rumah keluarga yang meninggal.

3. Ngaskare : merupakan prosesi yang dimaknai penyucian atman yang meninggal dengan tujuan atman yang meninggal dapat menyatu dengan sang pencipta.

4. Memeras : merupakan upacara yang dimaknai rasa syukur, apabila yang meninggal sudah memiliki Cicit atau Cucu yang sudah memiliki aanak.

5. Memegat : merupakan upacara yang dilaksanakan memutus hubungan Duniawi dan cinta dari kerabat yang ditinggalkan, untuk mempermudah jalan menuju sang pencipta.

6. Ngutang : merupakan pelaksanaan yang dimaknai membawa Jenazah ke kuburan dengan dinaikan ke wadah atau jempana yang diangkat secara bersama-sama oleh krame banjar yang diiringi oleh gong.

7. Ngeseng : merupakan pelaksanaan yang dimaknai membakar Jenazah yang bertujuan untuk mengembalikan unsur panca mahabhuta.

proses pembakaran Jenazah di tempat pembakaran, tampak keluarga besar menunggu dengan penuh sabar(Dok. Putu. S)

 

8. Nganyud : merupakan pelaksanaan yang dimaknai membuang abu sisa pembakaran Jenazah, yang telah dibakar ke sungai atau ke laut.

Proses pembuangan abu / nganyut sisa pembakaran Jenazah di sungai Pidada yang ada di Kampung Banjar Dewa( Dok. Putu. S)

 

9. Ngeroras : Ngeroras biasanya dilaksanakan 12 hari setelah acara ngaben, tetapi pada ngaben keluarga Wayan Etar dilaksanakan hari itu juga yang sering dikenal dengan bahasa upacara ngelanus. Ngeroras merupakan pelaksanaan yang sering dimaknai sebagai membersihkan lingkungan keluarga dari kesedihan yang melanda keluarga yang ditinggalkan.

10. Meajar – ajar : merupakan pelaksanaan yang dimaknai sebagai rasa syukur keluarga, karena saudara yang meninggal telah menjadi Pitara yang selanjutnya akan dilinggihkan di merajan atau sanggah kemulan keluarga besar.

Semua tahapan itu merupakan rangkian dari upacar Pitra Yadnya yang dilaksanakan oleh keluarga besar Wayan Etar. Keluarga pun mengucap syukur dan terimakasih karena semua rangkaian itu dapat dilaksanakan dan berjalan dengan lancar.

Dari hal tersebut diatas, dapat di simpulkan bahwa sifat kegotong royongan dalam warga Bali Kampung Banjar Dewa masih sangat melekat dan sangat besar. Kelian adat Desa Pekraman Kampung Banjar Dewa mengharapkan tradisi seperti ini dapat dilaksanakan dengan kebersamaan yang tinggi.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan